Two Worlds II has arrived at a moment strangely devoid of other games like it. Sure, there are other open-world action titles (whatever that means), but there's a deep vein of genre content to be explored that games like Divinity II last year and even 2006's Oblivion didn't tap completely. On paper, Two Worlds II seems poised to deliver in this regard, with a pretty innovative magic system (cleverly acronymed "DEMON"), a cool loot/equipment dynamic, and an epic if boilerplate dark fantasy setting. In practice, Two Worlds II stumbles, marred by clumsy controls, a clunky interface, and a generally mangled presentation.
Two Worlds II starts off on uneven fantasy action-RPG ground. From the title screen itself, it's clear that developer Reality Pump has strong tech running behind Two Worlds II, with great lighting, sharp textures, real reflections, and more. The poor art design is also immediately apparent -- it's like Reality Pump took all of the fantasy trappings they could think of and dumped them into a wood chipper and pointed it at their character models and environments. Two Worlds II's look is confused, when it isn't pandering with random instances of female characters with their breasts hanging out for no apparent reason.
Selasa, 24 Mei 2011
Selasa, 03 Mei 2011
Review Game NFS Shift 2 Unleashed
Review Need for Speed Shift 2 Unleashed: Game Simulasi Balap yang Seru!
Popularitas seri game Need for Speed (NFS) asuhan publisher kenamaan Electronic Arts harus diakui cukup tinggi di kalangan gamer pecinta balapan. Begitu banyak seri game NFS yang dirilis perusahaan ini dan semua selalu mengacu ke tujuan yang sama, yaitu balapan arcade yang cepat, brutal, dan koleksi mobil keren. Semua kecuali dua, yaitu NFS Shift dan Pro Street. Game tersebut memperkenalkan bentuk baru ke dalam NFS dan penerimaan para gamer saat itu sayangnya tidak begitu baik. Balapan setengah simulasi yang diberikan NFS Shift terasa tanggung dan banyaknya bug yang membayangi pemainnya membuat game ini tidak sukses besar. Demi memperbaiki nama NFS Shift, Electronic Arts kembali menghidupkan seri game ini dengan merilis NFS Shift 2 Unleashed.
Bila Anda memperhatikan dengan saksama perkembangan Need for Speed, ada satu hal yang dapat dicermati dari sisi pengembang gamenya. Pihak pengembang NFS selalu berasal dari studio asuhan Electronic Arts sendiri, seperti EA Seattle, EA Canada, dan EA Black Box. Namun, semenjak Shift dan NFS Hot Pursuit (2010), Electronic Arts mempercayakan pengembangan game ini di tangan perusahaan lain, yaitu Slightly Mad Studios (Shift) dan Criterion Games (Hot Pursuit). Lalu, apakah hal ini ada hubungannya dengan bentuk permainan NFS yang bersangkutan? Tentu ada! Hot Pursuit menjadi mirip game Burnout yang juga dibuat Criterion. Pengembang Criterion berhasil membuat Hot Pursuit menjadi lebih menarik, sedangkan Shift menjadi game simulasi tanggung. Nah, di Shift 2, pengembang yang sama, yaitu Slightly Mad Studios, kembali menangani pembuatannya. Apakah Shift 2 akan mengalami hal yang sama seperti pendahulunya?
Bila Anda memperhatikan dengan saksama perkembangan Need for Speed, ada satu hal yang dapat dicermati dari sisi pengembang gamenya. Pihak pengembang NFS selalu berasal dari studio asuhan Electronic Arts sendiri, seperti EA Seattle, EA Canada, dan EA Black Box. Namun, semenjak Shift dan NFS Hot Pursuit (2010), Electronic Arts mempercayakan pengembangan game ini di tangan perusahaan lain, yaitu Slightly Mad Studios (Shift) dan Criterion Games (Hot Pursuit). Lalu, apakah hal ini ada hubungannya dengan bentuk permainan NFS yang bersangkutan? Tentu ada! Hot Pursuit menjadi mirip game Burnout yang juga dibuat Criterion. Pengembang Criterion berhasil membuat Hot Pursuit menjadi lebih menarik, sedangkan Shift menjadi game simulasi tanggung. Nah, di Shift 2, pengembang yang sama, yaitu Slightly Mad Studios, kembali menangani pembuatannya. Apakah Shift 2 akan mengalami hal yang sama seperti pendahulunya?
Minggu, 10 April 2011
Cheetah Iran

Cheetah Iran, Satu-satunya Spesies Tersisa
Dari penelitian genetik, cheetah Iran yang sangat terancam punah ternyata merupakan satu-satunya subspesies unik cheetah tua Asia yang tersisa. Ia termasuk ke dalam subspesies Acinonyx jubatus (A.j.) venaticus.Dari perbandingan DNA antara spesies cheetah, diketahui bahwa cheetah Asia berpisah dengan cheetah lain yang tinggal di Afrika, pada 30 ribu tahun yang lalu.
Temuan ini melengkapi temuan yang diumumkan pada tahun 1990-an yang menyebutkan bahwa cheetah yang ada di kawasan selatan Afrika (Acinonyx jubatus jubatus) dan cheetah yang ada di kawasan timur Afrika (Acinonyx jubatus raineyi) merupakan sub spesies yang berbeda.
Sebagai informasi, cheetah awalnya dapat ditemukan di 44 negara di Afrika. Saat ini, hanya 29 negara saja yang memiliki cheetah. Sepanjang sejarahnya, cheetah juga tersebar mulai dari kawasan barat daya Asia sampai Asia tengah. Namun kini cheetah Asia cuma ada di Iran.
Pada penelitian, Pamela Burger, dokter dari University of Veterinary Medicine in Vienna, Austria dan timnya bekerjasama dengan Department of Environment Iran serta kelompok konservasi kucing liar, Panthera untuk mengamati cheetah Iran lebih dekat.
“Dari data yang kami dapat, terbukti bahwa cheetah Iran mewakili subspesies Asia yakni A.j. venaticus karena memiliki profil genetik serupa dengan spesimen yang berasal dari barat laut Iran pada tahun 800 - 900 kalender Hebrew,” kata Burger, seperti dikutip dari BBC, 28 Januari 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)
