Minggu, 10 April 2011

Cheetah Iran



Cheetah Iran, Satu-satunya Spesies Tersisa

Dari penelitian genetik, cheetah Iran yang sangat terancam punah ternyata merupakan satu-satunya subspesies unik cheetah tua Asia yang tersisa. Ia termasuk ke dalam subspesies Acinonyx jubatus (A.j.) venaticus.

Dari perbandingan DNA antara spesies cheetah, diketahui bahwa cheetah Asia berpisah dengan cheetah lain yang tinggal di Afrika, pada 30 ribu tahun yang lalu.

Temuan ini melengkapi temuan yang diumumkan pada tahun 1990-an yang menyebutkan bahwa cheetah yang ada di kawasan selatan Afrika (Acinonyx jubatus jubatus) dan cheetah yang ada di kawasan timur Afrika (Acinonyx jubatus raineyi) merupakan sub spesies yang berbeda.

Sebagai informasi, cheetah awalnya dapat ditemukan di 44 negara di Afrika. Saat ini, hanya 29 negara saja yang memiliki cheetah. Sepanjang sejarahnya, cheetah juga tersebar mulai dari kawasan barat daya Asia sampai Asia tengah. Namun kini cheetah Asia cuma ada di Iran.

Pada penelitian, Pamela Burger, dokter dari University of Veterinary Medicine in Vienna, Austria dan timnya bekerjasama dengan Department of Environment Iran serta kelompok konservasi kucing liar, Panthera untuk mengamati cheetah Iran lebih dekat.

“Dari data yang kami dapat, terbukti bahwa cheetah Iran mewakili subspesies Asia yakni A.j. venaticus karena memiliki profil genetik serupa dengan spesimen yang berasal dari barat laut Iran pada tahun 800 - 900 kalender Hebrew,” kata Burger, seperti dikutip dari BBC, 28 Januari 2011.

Selasa, 15 Maret 2011

Pelajar Islam Pewaris Ilmu Kimia

Sudah bukan jamannya lagi kita menganggap Ilmu Kimia harus dipelajari dari barat. Karena ternyata para ilmuwan muslim yang berhasil mengembangkannya menjadi seperti yang kita kenal sekarang.


Jumat, 11 Maret 2011

Tata Surya Baru

Ada Tata Surya Baru.
Berjarak 127 Tahun Cahaya dari Bimasakti
Para astronom Eropa berhasil menemukan tujuh planet yang berasal dari tata surya baru. Sementara jarak tata surya baru itu sekitar 127 tahun cahaya dari gugus Bimasakti.

Jarak tujuh planet baru tersebut dari induk tata suryanya tak jauh beda dengan jarak antara planet – planet dengan induk Bimasakti. Artinya, sistim tata surya yang menjadi onduk planet baru itu serupa dengan sistim gugus Bimasakti.